Perempuan Yang Akhirnya Berhasil Mengambil Hatiku
Pada akhirnya setelah 6 tahun. Juga setelah berbulan-bulan aku mengagumi sosok perempuan lain, dia hadir. Menunjukan kagum padaku, dia stalking hampir di semua akun media sosialku. Dia mengabarkan padaku bahwa dia sangat-sangat terkesan. Aku, belum ada perasaan apapun padanya. Hanya berucap terima kasih (dalam hati). Tetap saja, hatiku masih ada dia. Perempuan yang bulan April lalu aku kenal lewat sosial media. Ini temanya masih tetap perkenalan via sosial media ya? Entah lah, selalu saja. Namun tidak buruk untukku pribadi. Dengan tetap di dasari komunikasi yang sangat baik, lambat laun aku mulai mengenalnya sedikit demi sedikit.
RH
Si manis yang menggemaskan ternyata. Jika aku tidak lupa, mungkin pada tanggal 20 November 2021 awal kami saling menyapa. Awalnya dia memberikan banyak sekali like pada kicauan status di wall akun sosial mediaku. Aku coba membalas, tapi begitu aku periksa wall akunnya, sedikit sekali dia mengunggah foto, atau sekadar kicauan biasa. Dari sana aku putuskan untuk mengirimkannya chat sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak sekali memberikan like pada status-statusku. Lalu dia membalas, "Sama-sama, mas bro," dengan emotikon tawa terbahak.
Singkat cerita, pada hari berikutnya, tiba-tiba muncul notifikasi pada atas layar ponselku terkait dengan akun sosial mediaku yang lainnya. "Seseorang ingin mengikuti anda" begitu bunyinya. Begitu aku lihat, ternyata memang tidak asing. Dia perempuan yang aku chat kemarin siang. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung konfirmasi, sebab dia memang bukan orang asing. Setelahnya, beberapa jam kemudian muncul kembali sebuah notifikasi, bahwa dia mengirimkan pesan singkat di aplikasi media sosial itu. Aku buka, dan aku baca. Komunikasi di lanjutkan lewat chating di aplikasi itu. Sampai pada akhirnya, kami saling berbagi kontak.
Tidak butuh waktu yang lama ternyata. Hatiku begitu mudah rapuh ketika dia mencoba merayuku dengan kalimat-kalimat manis yang sejujurnya belum pernah sama sekali aku terima dari seorang perempuan. Meskipun dulu sempat punya pacar (6 tahun lalu) dia tidak seperti itu, mantanku itu tidak seperti RH. Aku terjatuh, hatiku menjadi luluh. Aku menghargai kehadirannya saat itu. Aku menghargai upayanya mengagumiku secara terus menerus. Aku mulai banyak bertanya tentang asal-usulnya. Dari mulai apa yang ia senangi, sampai hal yang paling ia benci.
Singkat cerita. Kami jadi lebih sering chating melalui aplikasi khusus untuk bertukar pesan. Dia sering mengabariku, dia selalu izin kepadaku setiap kali ingin pergi. Padahal saja, aku bukan siapa-siapa baginya. Yang paling membuat hatiku mulai merasa nyaman dengan RH adalah, dia hampir setiap hari membangunkan ku lewat dering telpon pada jam 4 subuh. Sungguh, 6 tahun lalu, ketika aku memiliki status ikatan pacaran, selama tiga tahun lamanya, seseorang itu (mantan) tidak pernah sama sekali bersikap demikian.
Ada suatu ketika di mana kabarku hilang pada RH. Bukan hilang, lebih tepatnya tidak secepat respon pada biasanya. Itu posisiku saat sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Mengerjakan pesanan seseorang pada usaha kecilku. RH nampak sedikit mengurangi harapannya. Pesannya nampak jelas singkat. Aku tidak ingin bertanya kenapa, dan apapun sebagainya. Toh, bukan seseorang yang memang harus aku pertahankan (pada saat itu). Pun di tambah hati yang belum sempurna menerima hadirnya. Masih ada sosok perempuan lain di dalam hatiku saat itu. Perempuan yang beberapa bulan lalu aku ceritakan di blogku ini.
Inisiatif aku kabarkan, dan meminta maaf jika pesanku tidak seresponsif pada biasanya. Aku sedang sibuk, dan dia memahaminya. Aku sedang membuat pesanan kasur lantai pesanan seseorang. Ya kini aku memulai usaha kecil itu setelah kontrak kerjaku selama 2 tahun tidak di perpanjang pihak perusahaan.
Singkatnya dari sana, RH mulai bertanya-tanya tentang usaha kecilku. Dia ingin memesan satu bantal bertuliskan inisial namanya. Jujur, pada awalnya aku sangat canggung. RH akan membayar pesanannya itu, namun aku selalu tidak sampai hati bersikap demikian pada seorang perempuan. Selalu saja. Tapi RH bersikeras memaksa bahwa ia tidak ingin hanya di beri cuma-cuma, RH tetap ingin membayarnya. Akhirnya aku mengiyakannya. Tapi setelah aku buatkan pesanannya, dan meminta alamat pengiriman, aku tidak memberikan nomor rekeningku pada RH. Dia nampak gelisah, sedikit marah. Hehe dia sangat lucu. Dan aku tetap meyakinkan dengan bilang, anggap saja itu sebagai hadiah dari ku padanya. Anggap saja sebagai kado dari idola, untuk fans. Haha. Ya memang, sebab aku menghargai upayanya mengagumi betapa dia begitu terkesan padaku.
Singkatnya, RH pun menyerah. Dia mengiyakan untuk tidak membayarnya. Karena mau lewat apa? Aku pun tidak membagi nomor rekeningku. Haha. Pada hari-hari berikutnya, RH mulai bertanya-tanya padaku, makanan dan minuman apa favoritku. Jujur, awalnya aku berpikir bahwa ini basa-basi klasik agar chating tidak usai. Aku menjawab seadanya. RH bertanya, apa kopi yang biasa aku minum? "Mocca" jawabku mantap. RH mengirimkan gambar kopi goodday - moccacino aku balas dengan tawa. Bukan Mocca itu yang aku suka. Dia mengirimkan gambar lain, sampai yang terakhir menunjukan gambar yang benar. Aku senyum-senyum sendirian di kamar. Basa-basi klasik.
Pada hari berikutnya, RH kembali bertanya parfum apa yang biasa aku pakai. Aku tidak sekaligus menjawabnya. Jujur itu privasi juga menurutku pribadi. Entah apa yang sedang aku pikirkan di sana. Padahal saja, jika aku beri tahu langsung pun, RH tidak mungkin memakai wangi yang sama di varian parfum. Toh jika memang iya pun, jauh juga ko jaraknya. RH memaksa ingin tahu. Akhirnya aku menyerah, aku sebutkan nama parfum dari varian wangi yang biasa aku pakai.
Setelah dari sana. RH tiba-tiba menanyakan alamat rumahku. Apa sampai sini kamu mulai sadar apa yang akan RH lakukan? Jujur saja, aku berpikir bahwa RH akan menemuiku ke Sukabumi. Ternyata dia akan mengirimkan sebuah paket. Paket yang berisi cemilan, dan minuman favoritku, yang sebelumnya sempat ia tanyakan. Hebat, pikiranku terkecoh. Pada hari berikutnya, paket kiriman dari RH sampai di rumah. Teman-temanku sedang asik nongkrong depan rumah. Biasa, mereka memang selalu asik kumpul depan rumah. Aku sedang mengerjakan pesanan kasur dari seseorang. Aku di dalam rumah. Teman-temanku bersorak. Beberapa diantaranya cie-cie ala anak kecil. Tertulis nama RH di kotak itu sebagai nama dari pengirim. Teman-temanku bersorak riang. Bersorak "Buka.. buka.. bukaa.." halah. Aku sangat malu sekali. Bisa-bisanya perempuan punya niat khusus kirim hadiah dalam bentuk paket via jasa kurir. Pengirimannya tebilang cukup jauh memang, tapi satu hari bisa sampai. Aku tidak menilai dari apa yang dia kirim, but honestly menghargai upaya itu. Terima kasih, RH^^
Sejak saat itu hatiku benar-benar menerima ketulusan niatnya itu. Aku benar-benar merasa nyaman. Aku benar benar merasa dianggap ada oleh seorang perempuan. Aku di kagumi, aku di bangga-banggakan. Aku mulai tumbuh perasaan. Namanya kini ada di hatiku, menggantikan nama dari perempuan yang sempat aku inginkan sebelumnya.
"Ada parfum juga di paling bawah," kabarnya malam itu. Jujur aku belum periksa semua isi paket dalam kotak kiriman dari RH itu, banyak sekali macam cemilan di sana. Setelah dia memberitahukan, aku coba periksa kembali isi paket itu. Benar saja, sebuah parfum dengan varian wangi yang biasa aku pakai ikut hadir dalam paket hadiah yang di kirimkannya untukku. Aku merenung, bibirku mengukir senyum. Ingatanku menerawang, dia perempuan baik. Dia benar-benar sangat tulus. Oh, ada sebuah benda kecil yang di tempelkan di parfum. Itu gelang dan cincin. Keduanya memiliki inisial "R". "R" untuk RH yang sekarang aku pakai.
Sungguh. Awal bulan terakhir yang sangat berbeda. Semoga tebakan ku kali ini tidak salah lagi. Semoga prasangka ku tidak melenceng jauh. Jika dia benar-benar menerimaku, jika dia benar-benar ingin bersamaku. Aku akan lebih menghargai itu. Aku akan lebih menjaganya, menjaga ikatan ini. Terima kasih sudah hadir:)
Rizky Imanul
Sukabumi, 16 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar