Jangan Datang
Empat tahun lalu aku menulis tentang kamu. Hampir selesai, hampir ku rampungkan. Tulisan yang isinya bagaimana caraku bangga memiliki kamu. Tulisan yang isinya lebih dikuatkan untuk kamu, bukan untuk validasi orang-orang.
Seringkali ketika malam datang, yang aku ingat hanya nama kamu. Ingat saat kita berkenalan. Mengingat perasaan senang ketika kamu memeluk waktu berboncengan. Hampir ribut gara gara memilih tempat makan. Menemani kamu ke salon sampai aku ketiduran. Dan … masih banyak lagi.
Banyak hal lucu dan menggemaskan yang kemudian… tidak bisa di ulang.
Ya. Kepergianmu utuh. Tapi kenangan tidak?
Kamu merepotkan. Membuatku berantakan. Hari-hari menjadi kacau. Tulisan rusak, dibiarkan sampai usang.
Seharusnya, kamu pergi bawa sekalian sama kenangannya. Repot yang mau masuk karena masih berantakan sama isi kenanganmu yang belum hilang.
Sekarang, kenangan itu dibersihkan oleh seseorang yang sabar. Dia merawat dan menyembuhkan. Perlahan aku lupa satu per satu kenangan itu. Bahkan saat dia mengingatkan tentang nama kota, aku lupa pernah ada nama kamu di sana.
Dia tidak secantik kamu, tidak pandai berdandan seperti kamu, paling tidak, dia tidak pintar menggoda orang-orang… seperti kamu.
Itu cukup.
Karena dia hanya cukup di mataku. Kalau kamu merasa tulisan ini sebagai cibiran, artinya kamu gagal. Karena aku membuatnya sebagai pengingat untuk diri sendiri, bukan berharap kamu kembali.
Jangan datang.
Aku sudah bersama orang yang aku sayang.
Seringkali ketika malam datang, yang aku ingat hanya nama kamu. Ingat saat kita berkenalan. Mengingat perasaan senang ketika kamu memeluk waktu berboncengan. Hampir ribut gara gara memilih tempat makan. Menemani kamu ke salon sampai aku ketiduran. Dan … masih banyak lagi.
Banyak hal lucu dan menggemaskan yang kemudian… tidak bisa di ulang.
Ya. Kepergianmu utuh. Tapi kenangan tidak?
Kamu merepotkan. Membuatku berantakan. Hari-hari menjadi kacau. Tulisan rusak, dibiarkan sampai usang.
Seharusnya, kamu pergi bawa sekalian sama kenangannya. Repot yang mau masuk karena masih berantakan sama isi kenanganmu yang belum hilang.
Sekarang, kenangan itu dibersihkan oleh seseorang yang sabar. Dia merawat dan menyembuhkan. Perlahan aku lupa satu per satu kenangan itu. Bahkan saat dia mengingatkan tentang nama kota, aku lupa pernah ada nama kamu di sana.
Dia tidak secantik kamu, tidak pandai berdandan seperti kamu, paling tidak, dia tidak pintar menggoda orang-orang… seperti kamu.
Itu cukup.
Karena dia hanya cukup di mataku. Kalau kamu merasa tulisan ini sebagai cibiran, artinya kamu gagal. Karena aku membuatnya sebagai pengingat untuk diri sendiri, bukan berharap kamu kembali.
Jangan datang.
Aku sudah bersama orang yang aku sayang.

Komentar
Posting Komentar