Kamu Tahu?
Kamu tahu? Aku selalu bertanya tentang bulan November. Entah mengapa November selalu memberi kejutan. Di tahun sebelumnya, November juga memberiku kejutan. Kadang aku berpikir panjang tentang November, dan aku. Ada kesepakatan apa sebelumnya sampai-sampai cerita yang sama terjadi di bulan November?
Kamu tahu? November sebelumnya aku di pertemukan dengan seorang perempuan yang begitu kagum padaku. Layaknya kamu sekarang. Bukan begitu? Ya, November sebelum November denganmu, ada November yang mengingatkan kejadian November denganmu.
Kamu tahu? Dia juga sama sepertimu. Dia selalu menguntit semua akun media sosialku di manapun, di semuanya. Terkecuali mungkin Twitter, dia tidak terlalu paham dengan sosial media yang satu itu. Sedangkan kamu, ya kamu pun baru membuatnya akhir tahun kemarin, kan? Aku, dan November, seperti dejavu. Kisah denganmu hampir sama dengan kisah yang aku tulis di November sebelumnya. Cerita kecil, tertawa bersama, foto bersama, main ketempat yang ramai orang bicarakan, lalu foto lagi di sana. Menangis di telpon, merengek minta peluk, mengacak-acak rambut sebab rindu yang tak bisa di tampung, lalu hal-hal lainnya yang tidak bisa aku ceritakan semua. Terlalu banyak, serincinya, cerita ini hampir sama. Namun tidak sepenuhnya berarti sama.
Kamu tahu? Dia menghilangkan rasa cintanya sendiri untukku secara tiba-tiba. April setelah itu, kita sudah tidak saling berbagi kabar. Meski perasaanku masih bergantung, namun kita sudah sepakat untuk memilih jalan sendiri-sendiri.
Kamu tahu? Kamu sudah tahu. Semalam tidak sengaja kamu membaca tulisanku, kan? Tulisan tentang bagaimana dari awal aku berlenalan dengannya. Kamu kirim pesan lewat aplikasi Whatsapp, seakan-akan kamu minta penjelasan. Memintaku untuk meyakinkanmu bahwa aku sudah melukapan cerita itu. Sekarang ada kamu. Tentu, hanya kamu sekarang di pikiranku, di hatiku.
Kamu tahu? Aku tidak mebalas pesanmu. Aku mengalihkan dengan membalas isi pesan lain dari mu. Aku hanya tidak ingin membahasnya. Membahas itu. Membahas masalalu. Bukan takut untuk teringat. Tapi rasanya malas. Sebab seharusnya kamu tahu, bahwa saat ini dengan segala apa yang aku lakukan untukmu, seharusnya kamu tahu. Aku hanya mencaintaimu.
Kamu tahu? Andai cerita ini sama, aku hanya takut jalan ceritanya pun akan berakhir sama. Aku berharap April tetap baik-baik saja di tahun ini. Aku berharap, cukup jalan ceritanya saja yang sama, orangnya jangan. Aku berharap kamu tidak main-main dengan kisah ini. Aku sudah capek.
Kamu tahu? Apa yang membuatku jatuh hati padamu? Kamu tahu, setiap malam sebelum tidur, aku melihat gambar wajahmu di layar ponsel kecil? Kamu tahu, terselip kamu di saat aku merenung? Kamu tahu, mengapa saat ini aku masih memperjuangkanmu? Kamu tahu?
Cirebon, 07 Februari 2023

Komentar
Posting Komentar