Bertahan Melawan Sakit, Dipaksa Kuat Menelan Pahit
Seringkali aku merenung setelah sadar bahwa kau telah pergi. Terkadang aku ingin meronta, duduk sendirian menjambak rambutku kuat-kuat. Terkadang aku ingin menangis, menghisap rokok dalam-dalam seperti ingin membuat paru-paru berhenti berproses. Aku masih memikirkanmu, aku masih belum bisa melupakanmu, tapi bagaimana? Aku sudah tidak bisa mengabarimu. Kau menutup semua jalur komunikasi kita di manapun. Aku tau ini cara terbaik kamu membantuku untuk bisa segera melupakanmu. Aku mengerti ini adalah caramu agar aku tidak mengetahui tentang apa-apa yang terjadi padamu. Yang salah mungkin aku, aku terlalu payah. Dan aku benci memiliki karakter yang terlalu bersimpati pada orang-orang. Benci memiliki karakter yang terlalu lemah menghadapi perasaan. Tapi ini aku. Dan ini yang terjadi padaku.
Satu bungkus rokok yang ku letakan di meja kini tersisa dua batang. Aku hisap sedari pagi tadi sambil berpikir membuat tulisan ini. Mungkin besok akan kembali membaik. Kegiatan kerja di pabrik bisa menjadi alternatif lain untuk pikiran-pikiran ku yang masih saja tentangmu. Kamu hebat. Memaksaku bertahan melawan sakit, memaksaku kuat menelan pahit.
Cirebon, 22 Mei 2022

Komentar
Posting Komentar