Diantara Kenangan Yang Melekat Hebat
Jujur saja kenangan tentang bagaimana dia merapikan rambut, bersandar, dan memeluk. Tawa yang berisik, lagu Threesixty favorit, hela nafas saat kesal, cincin yang terbuat dari rajutan benang hitam, jam tangan karet, serta dua jaket hangat yang dia kirim melalui paket, semuanya membuatku semakin bertanya-tanya. Ada yang membuatku semakin tidak percaya, rasa apa yang dia berikan saat malam itu? Saat malam di sebuah kota besar mendengar kabarku tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja? Dia datang. Datang dengan tangisan. Datang dengan kecemasan. Itu sebuah rasa apa? Sampai-sampai aku berani bertaruh tentang dirinya, dia tidak akan pergi, dan aku akan selalu menghargai niat tulusnya.
Ya memang, sebuah perasaan memang tidak bisa di paksakan. Itu sebab aku mengikhlaskannya pergi. Tidak ada alasan lain. Aku sudah menjatuhkan harga diriku sendiri demi meyakinkannya. Bukan sebuah drama semata-mata, tapi jujur, aku memang berat kehilangannya. Tapi sudah tidak ada wadah bagiku darinya. Tidak ada lagi tempat untukku di hatinya. Percuma, rasanya hanya sia-sia.
Anda saja waktu tidak pernah memberitakan hal buruk-buruk itu, aku pikir semesta hanya kumpulan 24 jam yang membosankan. Sudah konsekuensi memang dalam sebuah hubungan, namun bukan ini yang sedang ingin aku bahas. Namun lebih ke mempertanyakan di mana kesalahanku menjalaninya?
Teruntuk kamu
Bukan kah kita selama ini baik-baik saja? Ah, sudahlah. Poin dasarnya sudah jelas, kamu memang sudah hilang rasa. Tidak ada alasan lain yang mengakhiri perpisahan ini.
Jujur saja aku masih sangat teringat tentang perdebatan kecil kita membahas sebuah hal yang masih jauh untuk kita berada di titik pembahasan itu. Namun aku suka tertawa dari jawaban polosmu yang lucu. Hehe anak kecil.
Pada akhirnya selalu tentang kamu yang aku ingat di kepala. Menggantungkan jaket pemberianmu dengan rapih, dan sangat hati-hati. Membersihkan jam tangan pemberianmu. Bahkan sekarang aku mulai membiasakan diri untuk di manapun jika sedang minum harus duduk. Hal kecil yang selalu kamu ingatkan jika melihatku membuka tutup botol untuk minum, “Duduk!” ucapmu pelan.
Kini pikiranku kacau. Kadang melamun di kerjaan, kadang di jalan sambil mengendarai sepeda motor butut yang tidak ada lampu sein. Mobil di belakang mengagetkanku dengan klakson kerasnya. Aku melambai, menundukkan sedikit kepala. Maaf kataku. Tak peduli dia marah. Tak peduli dia memaki.
Kadang ada waktu saat ada seseorang memakai wangi parfum yang sama denganmu. Sungguh, itu sangat melukai hatiku. Membuatku semakin terpuruk menerima pernyataan darimu.
Kamu harusnya jangan datang jika memang tidak yakin denganku. Harusnya dari awal jangan terlalu berharap besar bisa bersamaku. Kamu sudah tahu semua cerita tentangku di masa lalu. Aku bahkan pernah bercerita padamu, bahwa aku pernah mengalami patah hati paling hebat. Yang membuat aku memilih untuk tetap menyendiri bertahun-tahun lamanya. Sampai pada akhirnya di pertemukannya denganmu, rasa semangat itu mulai tumbuh kembali. Namun aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kamu membuat perasaan lebih padaku, lalu dengan mudah kamu tarik kembali. Seperti sebuah permainan saja rasanya. Aku kecewa? Ya, sangat. Tapi tidak untuk membencimu. Paling tidak, aku berterima kasih padamu. Karena kisah denganmu membuat rasa yang dulu mati menjadi hidup kembali. Aku tidak lagi trauma pada luka dari patah hati ke sekian kali. Bahkan bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi. Memperbaiki karakter sendiri dalam menjalani sebuah hubungan selanjutnya, bersama orang yang menurut Tuhan terbaik untukku. Terima kasih. Baik-baik di sana, semoga berbahagia dengan orang yang sedang kau kagumi saat ini.
Sukabumi, 13 Mei 2022

Komentar
Posting Komentar