Lekas Baik Diri


Akhir-akhir ini aku lebih sering melamun sendirian. Entah itu di kamar, di kerjaan, di luar ruangan, di mana-mana. Kadang kepala produksi menegurku atas hal kecil yang membuat pekerjaanku berantakan. Kebiasaan. 

Berat badanku turun lagi. Aku tidak ingin terus-terusan terpuruk karena ini. Namun apa dayaku yang terus teringat kabar-kabar baik di tiap pagi yang hilang kini. Terus terusan teringat beberapa peristiwa menyenangkan bersamanya lagi. Kini, itu hanya sebatas kenangan yang membekas di kepala. Melukai hati, sampai pikiran yang tak nyaman memikirkan apapun.

Aku bahkan tau jelas, beberapa orang ada yang menguntit kisahku dengannya dulu. Sampai-sampai tau jika aku sudah mengakhiri hubungan itu, pesan-pesan baik dikirimkan dari berbagai arah. Tapi aku tidak minat, atau mungkin belum minat.


Jika sudah selesai kerja, seringkali aku hanya berdiam diri di luar kost. Memainkan gitar dengan entah apa lagu yang aku nyanyikan. Kemudian menyalakan kembali sebatang rokok, terus seperti itu sampai tak sadar satu bungkus rokok bisa habis dalam waktu semalam. Tak enak makan, wajar bila berat badanku turun. Wajar.


Beberapa hari kebelakang aku mendapat kabar darinya. Dia menyapaku disertai banyak emoticon menangis. Satu sisi aku bahagia, sangat-sangat bahagia. Di sisi lain aku cemas, dan menanyakan kabarnya, "kenapa?" ternyata kabar buruk yang aku terima. Aku tidak mau dia terluka. Di setiap doa, bahkan aku selalu meminta agar dia baik-baik saja. Bahagialah, biar aku yang terima lukanya. Aku sudah biasa melawan ini, sudah mampu melakukannya jauh-jauh hari. Esok harinya, dia memutus kembali jembatan komunikasi. Aku malah semakin cemas. Dengan terpaksa aku mengabarinya lewat pesan di aplikasi media sosial. Bukan apa-apa, hanya ingin memastikan bahwa dia benar baik-baik saja. Aku mengerti, dia sudah tidak ingin lagi berbagi kabar baik dengan ku seperti dulu, seperti di awal-awal perkenalan. Sudah lah itu sudah selesai.


Sebelumnya sempat aku berpikir bahwa saat kabarnya muncul tiba-tiba, itu. Aku berpikir jika dia berubah pikiran dan ingin memulainya kembali. Ternyata aku salah besar, dia hanya bosan dan butuh seseorang untuk menenangkan. Tidak apa-apa, aku akan selalu siap. Entahlah, aku masih sangat-sangat ingin bersamanya lagi. Tapi mungkin, ini memang sebuah tugas yang sudah aku selesaikan. Membahagiakannya sesaat, dan rela membuat diri sendiri menjadi korban. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku akan lawan semuanya. Walau ternyata ini luar biasa berat. Buktinya aku masih tidak enak makan. Tidak bisa berpikir jernih. Sering melamun sendirian. Sampai aku menulis tulisan ini pun, aku sudah menghabiskan 5 batang rokok. Padahal baru beli, baru saja beli.


Sakitnya benar-benar aku rasakan lagi kini. Huh, sulit memang menggambarkannya seperti apa. Bedanya, kini aku tumbuh menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Jika dulu dengan luka ini aku tak bisa lakukan apa-apa, kini masih mending aku masih bisa melakukan kegiatan bekerja di pabrik. Ya walau masih kadang-kadang error dan sering kena teguran atasan, "kamu kalau gak sanggup di bagian ini jangan maksain, biar di ganti yang lain." huh. Aku hanya menjawab "maaf." Tanpa mampu memberi alasan lain.


Sesakit sakitnya hatiku kini, aku harus melawan. Serapuh apapun, walau terguncang hebat aku harus bertahan. Aku jauh sekarang dari kampung halaman. Lalu ada pesan dari Bapak yang membuat aku harus melawan ini semua. Sisa uang ku habis minggu ini, entah lah aku harus menjual apa untuk bisa tetap di sini. Tapi bukan itu yang paling penting sekarang. Aku hanya ingin lekas sembuh. Lekas baik diri.


Cirebon, 27 Mei 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Datang

Perempuan Yang Akhirnya Berhasil Mengambil Hatiku

Detik-detik Kepergian Sekaligus Pembukaan Kembali