Gulita Di Pesisir Utara
Kota kecil ini mengingatkanku lima, atau mungkin enam tahun ke belakang. Ketika itu aku terpaksa harus pergi menuju ujung pulau jawa dibagian timur. Orang-orang di sana terkejut bukan main, “Wah, uedan nemen yo! Iku dari ujung ke ujung, tok.” Dan aku tanggapi dengan tersenyum lebar kala itu.
Berpikir matang-matang tentang malam ini. Berpikir dalam-dalam tentang malam sebelumnya. Dari cerita-cerita panjang yang selesai aku lalui, pahit, manis, asam, dan asinnya mungkin sudah tercampur aku lahap nikmat-nikmat.
Aku kembali ke titik ini.
Titik dimana semuanya berawal. Kendaraan motor matik yang ku miliki dulu, dua ponsel kelas flagship menengah ke bawah yang aku punya, dan semuanya. Aku tidak ingin mengingatnya.
Remang-remang lampu jalanan, sunyi dari bisingnya kendaraan, angin malam, aku duduk sendirian. Duduk menerawang, “Mau jadi apa aku sekarang?”
Habis rokok satu batang, kembali menerawang. Memeluk kedua lutut memandang pada sesuatu yang tidak wajar. Orang-orang yang lewat mungkin menatap aneh. Hanya tidak enak hati saja begitu aku mengalihkan pandanganku pada mereka (yang lewat), “Punten, A” Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Kemudian kembali menerawang ke arah depan. Ke arah jalanan. Tepat menatap pohon besar di seberang jalan.
Mulai menyalakan lagi sebatang rokok. Posisi tidak aku ubah. Duduk beralaskan kardus bekas, menekuk kedua lutut, dan menopang kedua lengan. Malam ringan di kota kecil bibir pantai. Aku masih sendirian. “Apa aku tidak lapar?” tanya batinku sendiri. Perutku yang langsung menjawab itu. Kruuuuukkk... Hahaha. Tidak perlu aku jelaskan.
Aku jadi ingat tadi siang, di jam istirahat, ketika aku pergi mencari lauk untuk makan. Dalam perjalanan itu, di seberang jalan aku melihat seorang Kakek berdiri di pinggir jalan. Tangan kirinya memegang banyak sekali masker kain. Sementara tangan kanannya memegang dua masker, dan mengacungkannya ke atas. Di samping si Kakek, sepedah tua terparkir tak rapih. Tanpa standar di sepedahnya, si Kakek menyenderkan sepedah itu pada pohon besar. Ada tulisan di sepedah itu, “Jual masker kain.” Sungguh hatiku iba sekali melihatnya. Ingin membantu untuk membeli saja satu. Namun apa dayaku?
Selain itu aku melihat lelaki seumuranku—sepertinya. Kesulitan mendorong gerobak bertuliskan “Mie Ayam mas Yodi” memang kondisi jalan saat itu sedikit menanjak. Tidak ada yang membantunya mendorong gerobak itu sampai di permukaan jalan yang landai. Iba hatiku melihat itu. Ingin sedikit membantunya. Namun apa dayaku?
Akhirnya perjalananku sampai siang itu. Aku parkir motor, lalu membeli gorengan. Sedikit saja, hanya untuk aku makan tadi siang.
Hemmmmm.
Malam ini benar-benar jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Habis rokok satu batang, kembali menerawang. Memeluk kedua lutut memandang pada sesuatu yang tidak wajar. Memandangi sebuah masker kain yang aku pegang kini. Bahkan aku tidak tahu kapan aku akan menggunakan masker ini? Orang-orang yang lewat mungkin menatap aneh. Hanya tidak enak hati saja begitu aku mengalihkan pandanganku pada mereka (yang lewat), “Punten, A” Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Kemudian kembali menerawang ke arah depan. Ke arah jalanan. Tepat menatap pohon besar di seberang jalan.
Cirebon, 3 Juni 2022

Komentar
Posting Komentar