Cintai Sewajarnya
Kemarin, sebelum Februari berakhir, dia harus pergi pulang. Sebelumnya kami pernah sehangat bara api di pagi-pagi buta. Kini, sebab jarak dan waktu, kami acapkali merasa terganggu dengan rindu. Kami saling egois untuk tidak memberi kabar terlebih dulu, sehingga menimbulkan prasangka-prasangka baru.
Aku tidak pernah sedemikian rumit seperti sekarang, jika memang hanya sendirian. Tapi setelah ini, apa-apa yang aku pikirkan selalu tentang “Sedang apa dia sekarang?”
Seringkali aku turunkan egoku untuk bertanya, ketimbang menerka-nerka. Tapi dengan setiap pertanyaan yang aku lempar, tidak pernah ada sama sekali jawaban yang aku inginkan.
Mungkin memang benar, cintai sewajarnya. Sebab dalam situasi ini, semua yang aku pikirkan, akan sekaligus merusak konsentrasiku dalam segala aktivitas.
Dia memang mencintaiku, dulu. Dan aku hanya ingin dia kembali seperti itu. Sebab sebelumnya, aku bisa jatuh cinta karena dia memberi perasaan yang luar biasa. Seringkali aku biarkan dia bergurau di depanku. Seringkali aku abaikan, meski dia acapkali mengusiliku. Tapi dia tetap berjalan di belakangku. Tidak pergi meski aku tidak berbalik badan.
Aku hanya ingin dia kembali seperti itu. Mungkin memang benar apa kata orang-orang tentang hubungan yang berjarak. Tapi aku tidak peduli sama sekali, sebab aku pernah bermain dalam peran seperti ini. Tapi rasanya kali ini beda. Respon yang aku dapat dari seorang pasangan tidak seperti ini.
Mungkin memang sederhana permasalahannya, bahkan bisa jadi bukan sebuah masalah, ketika sesi chating, dia tidak pernah seperti biasanya ketika masih sama-sama di sini, di kota asing ini. Dia lebih jarang untuk membalas pesanku dengan cepat, bahkan seringkali tidak membuka isi pesan dariku. Dia hanya membalas melalui fitur balasan yang di sediakan oleh aplikasinya sendiri, tanpa harus membuka seluruh isi pesan dalam aplikasi.
Bagiku ini masalah. Enth ini teori yang aku ambil sendiri. Bisa jadi dia sedang sibuk mengobrol dengan seseorang? Jadi, saat isi pesan singkatku sampai, dia hanya membalas tanpa perlu repot membuka aplikasi. Dari sana aku sudah mulai ragu, entah bagaimana menanggapi ini kedepannya?
Sampai kini aku masih berusaha untuk tidak egois. Mengalah untuk membuat dia tetap merasa nyaman denganku. Mengalah untuk membuat dia merasa tetap baik-baik saja. Tapi lama-lama, aku seperti menyakiti batinku sendiri dengan cara yang aku buat sendiri.
Setelah dia pamit akhir Februari, komunikasi itu benar-benar menjadi hambar. Sesi chating menjadi seperti sesi wawancara. Tidak ada yang aku dapat. Seperti dulu mungkin akan ada tanya, “Apa hari ini menyenangkan? Engga ada yang mau di ceritakan?” sesederhana membuat kalimat untuk aku buat menjadi topik pembahasan. Paling tidak seperti itu yang aku mau.
Mungkin memang benar, aku juga tidak bisa seperti ini berulang kali dalam kisah percintaan yang acap kali gagal. Mengorbankan diri dengan menjatuhkan harga diri berkali-kali. Aku laki-laki! Benar. Cintai sewajarnya.

Komentar
Posting Komentar