Lihat Sekarang


Lihat lah saat ini. Lihat sekarang. Sudah mulai hilang kan? Sudah asing, dan terasa hambar. Empat tahun lalu, pulang ke kampung halaman adalah yang paling kamu tunggu. Kamu bisa mengabarkan pada semua temanmu hanya melalui story Wasap, lalu setelah itu, mereka (teman-temanmu) membalas satu per satu. Mereka antusias menunggu kedatanganmu. Mereka rindu, kamu juga. Lihat sekarang?

Waktu itu, kamu masih ingat kan, enam tahun lalu dengan acara besar dari komunitas kecil yang kamu bangun bersama adik laki-lakimu? Kamu, dan adikmu hanya bercanda dengan rencana di luar kepala. Hanya karena kamu melihat kenangan yang dua tahun sebelumnya, berhasil kamu ciptakan dengan meriah. Walau kamu sendiri tahu, kamu sudah berdarah-darah dengan acara yang kamu buat itu. Kamu korbankan tenaga, pikiran, waktu, juga uangmu. Kamu menyesal, aku tahu. Kamu sakit, aku tahu. Tapi kamu merasa bangga dengan acara yang kamu buat itu. Paling tidak, orang-orang tahu akan meriahnya pesta itu, tanpa berpikir sedikitpun jika kamu yang berjuang sendiri.

Adikmu tahu. Beberapa temanmu juga tahu. Tapi kebanyakan dari mereka tidak tahu. Mereka menikmati acaranya. Setelah itu selesai, mereka lupa. Hanya beberapa temanmu yang saat itu (hingga kini) masih mengingat, dan ingin kembali mengulang. Akan tetapi, juga, mereka bersikeras mengingatkanmu, agar jangan mengulangi tindakanmu di acara sebelumnya.

Tapi, setelah itu kamu mengulanginya lagi. 2017, acara tercipta lebih meriah dari dua tahun sebelumnya yang kamu ciptakan. Kamu bungkam seakan semua baik-baik saja. Acara berjalan lancar, dan sangat meriah. Kamu sebarkan ulang hasilnya pada media, menandakan komunitasmu bahwa kau berhasil. Lihat sekarang?

Tersisa beberapa dari semua orang yang kamu ajak pesta. Semeriah waktu itu, sesunyi saat ini. Hanya ada satu, dua, tiga, dan ... Adikmu. Kau pulang hanya untuk menemui mereka. Berbincang sederhana dengan seduhan kopi panas tanpa rencana-rencana. Isinya ringan, tak jarang pembahasan mulai berat. Diskusi menyesali peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum saat ini. Itu bodoh, itu gila. Temanmu tidak menyalahkanmu. Adikmu juga. Mereka ikut menyesal. Itu akan jadi pelajaran.

Berterima kasihlah pada mereka yang masih ada. Masih mau menyambutmu saat pulang ke kampung halaman. Walau sudah tidak ada waktu untuk sama-sama, mereka tetap menjadi bagian teman yang paling peduli denganmu. Lihat sekarang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Datang

Perempuan Yang Akhirnya Berhasil Mengambil Hatiku

Detik-detik Kepergian Sekaligus Pembukaan Kembali