Postingan

Lihat Sekarang

Gambar
Lihat lah saat ini. Lihat sekarang. Sudah mulai hilang kan? Sudah asing, dan terasa hambar. Empat tahun lalu, pulang ke kampung halaman adalah yang paling kamu tunggu. Kamu bisa mengabarkan pada semua temanmu hanya melalui story Wasap , lalu setelah itu, mereka (teman-temanmu) membalas satu per satu. Mereka antusias menunggu kedatanganmu. Mereka rindu, kamu juga. Lihat sekarang? Waktu itu, kamu masih ingat kan, enam tahun lalu dengan acara besar dari komunitas kecil yang kamu bangun bersama adik laki-lakimu? Kamu, dan adikmu hanya bercanda dengan rencana di luar kepala. Hanya karena kamu melihat kenangan yang dua tahun sebelumnya, berhasil kamu ciptakan dengan meriah. Walau kamu sendiri tahu, kamu sudah berdarah-darah dengan acara yang kamu buat itu. Kamu korbankan tenaga, pikiran, waktu, juga uangmu. Kamu menyesal, aku tahu. Kamu sakit, aku tahu. Tapi kamu merasa bangga dengan acara yang kamu buat itu. Paling tidak, orang-orang tahu akan meriahnya pesta itu, tanpa berpikir sedikitpun ...

Aku Hebat (onme#1)

Gambar
Apa kabar? Hem. Aku tersenyum kecil membuka ulang platform ini. Aku pikir sudah setahun tidak lagi menulis di sini. Padahal, baru saja kemarin ternyata. Aku pelupa, semakin pelupa saja rasanya. Memprihatinkan. Aku benci mengakui, tapi ini yang terjadi. Faktor usia. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu kedai kecil di kota kecil pesisir utara. Tidak terasa, aku sudah setahun saja menjejak diri di kota ini. Ya, walau memang moment hari raya kemarin, aku pulang juga. Itu wajib. Setahun sekali berkumpul bersama keluarga. Hari ini aku libur bekerja. Tapi harus tetap bekerja, karena tugasku sebagai purchasing sangat diandalkan perusahaan. Contoh kecil untuk belanja bahan masakan. Jika hari ini libur, namun tetap ada bahan yang harus dibeli, itu jadi bagian tugasku. Pemilik perusahaan kedai kecil ini memilihku untuk mengambil bagian tugas ini. Selain dari karyawan lain yang menolak, mungkin pemilik perusahaan juga menilai potensi setiap karyawannya sendiri. Siapa yang paling bisa di...

Cintai Sewajarnya

Gambar
Hujan masih saja mengguyur kota kecil ini. Kota kecil yang asing untuk ku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini, selain kepercayaan tekadku untuk meraih apa-apa yang sudah hilang, dulu. Memang, ternyata kalau sudah terbiasa dengan badai, gerimis tidak terasa mengusik bagiku. Kemarin, sebelum Februari berakhir, dia harus pergi pulang. Sebelumnya kami pernah sehangat bara api di pagi-pagi buta. Kini, sebab jarak dan waktu, kami acapkali merasa terganggu dengan rindu. Kami saling egois untuk tidak memberi kabar terlebih dulu, sehingga menimbulkan prasangka-prasangka baru. Aku tidak pernah sedemikian rumit seperti sekarang, jika memang hanya sendirian. Tapi setelah ini, apa-apa yang aku pikirkan selalu tentang “Sedang apa dia sekarang?” Seringkali aku turunkan egoku untuk bertanya, ketimbang menerka-nerka. Tapi dengan setiap pertanyaan yang aku lempar, tidak pernah ada sama sekali jawaban yang aku inginkan. Mungkin memang benar, cintai sewajarnya . Sebab dalam situasi ini, semu...

Kamu Tahu?

Gambar
Kamu tahu? Aku selalu bertanya tentang bulan November. Entah mengapa November selalu memberi kejutan. Di tahun sebelumnya, November juga memberiku kejutan. Kadang aku berpikir panjang tentang November, dan aku. Ada kesepakatan apa sebelumnya sampai-sampai cerita yang sama terjadi di bulan November? Kamu tahu? November sebelumnya aku di pertemukan dengan seorang perempuan yang begitu kagum padaku. Layaknya kamu sekarang. Bukan begitu? Ya, November sebelum November denganmu, ada November yang mengingatkan kejadian November denganmu. Kamu tahu? Dia juga sama sepertimu. Dia selalu menguntit semua akun media sosialku di manapun, di semuanya. Terkecuali mungkin Twitter, dia tidak terlalu paham dengan sosial media yang satu itu. Sedangkan kamu, ya kamu pun baru membuatnya akhir tahun kemarin, kan? Aku, dan November, seperti dejavu. Kisah denganmu hampir sama dengan kisah yang aku tulis di November sebelumnya. Cerita kecil, tertawa bersama, foto bersama, main ketempat yang ramai orang bicaraka...

Ingatan di Empat Tahun Silam

Gambar
Ingatanku mengulang di empat tahun silam, saat aku menginjakkan kaki di kota besar pulau Sumatera. Aku tidak kenal siapa-siapa, dan dengan keadaan hati yang baru saja patah. Aku tidak punya apa-apa, sementara keinginan memenuhi isi kepala. Lambat laun aku melangkah. Jatuh bangun mencapai titik yang ingin aku capai. Berdarah-darah melawan rintangan di setiap bagian yang selesai. Saat ini, aku berada di kota kecil pesisir utara. Semua peristiwa hampir sama. Terkhusus peristiwa yang baru saja tercipta. Ditengah orang-orang sibuk dengan acara-acara, aku, bersama rekan-rekan kerja pergi liburan. Tempat wisata sederhana yang cukup ramai di kunjungi orang. Itu yang kami pilih. Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan di sini. Sayangnya masih tidak mampu untuk aku ceritakan semua. Sebagian hanya aku simpan dalam ingatan. Sesederhana itu dengan mereka. Akhirnya aku bisa lupa. Terlebih dengan peristiwa lucu sebelum pemberangkatan tadi siang. Pemberangkatan di mulai jam satu siang. Tiga puluh meni...

Silakan

Gambar
Silakan pergi jika memang kau merasa lebih baik tanpa aku di hidupmu. Silakan pergi jika itu membuatmu lebih tenang dari pada tuntutan yang kau inginkan tidak pernah sama sekali bisa aku sempurnakan. Silakan pergi dengan tujuan baru. Rencana baru, angan-angan baru. Janji-janji itu? Maaf jika sejauh kita menulis cerita bersama, aku tidak pernah bisa selalu ada. Terkadang rindumu menggebu, dan aku abai dari hal itu. Silakan cari, dan temukan sosok yang menurutmu terbaik dari hal apapun. Dari tentang cara mengingatkanmu untuk memperhatikan pola makan. Dari tentang cara mengingatkanmu agar jangan tidur larut malam. Dari yang selalu ada setiap kau butuhkan. Dari yang tidak pernah membentakmu. Dari yang tidak ingin membuatmu terluka. Dari segala bentuk apapun yang kau anggap sempurna. Maaf jika dulu aku tidak nampak seperti itu. Walau sebenarnya aku telah bertarung hebat dengan upaya-upaya di dalamnya. Maaf sudah membuatmu patah. Maaf membuatmu kecewa. Maaf sudah membuat luka. Maaf telah mem...

Gulita Di Pesisir Utara

Gambar
Kota kecil ini mengingatkanku lima, atau mungkin enam tahun ke belakang. Ketika itu aku terpaksa harus pergi menuju ujung pulau jawa dibagian timur. Orang-orang di sana terkejut bukan main, “Wah, uedan nemen yo! Iku dari ujung ke ujung, tok.” Dan aku tanggapi dengan tersenyum lebar kala itu. Berpikir matang-matang tentang malam ini. Berpikir dalam-dalam tentang malam sebelumnya. Dari cerita-cerita panjang yang selesai aku lalui, pahit, manis, asam, dan asinnya mungkin sudah tercampur aku lahap nikmat-nikmat. Aku kembali ke titik ini. Titik dimana semuanya berawal. Kendaraan motor matik yang ku miliki dulu, dua ponsel kelas flagship menengah ke bawah yang aku punya, dan semuanya. Aku tidak ingin mengingatnya. Remang-remang lampu jalanan, sunyi dari bisingnya kendaraan, angin malam, aku duduk sendirian. Duduk menerawang, “Mau jadi apa aku sekarang?” Habis rokok satu batang, kembali menerawang. Memeluk kedua lutut memandang pada sesuatu yang tidak wajar. Orang-orang yang lewat mungkin men...